Wednesday, August 10, 2011

Pendeta Kaya Raya

Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya.

Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal ini tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk dihadapanku mengisahkan tentang dirinya.

Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap kota Johanesburg, kota bintang emas yang kaya di negara Afrika Selatan dimana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah Al-Alam Al-Islam disana.

Pada tahun 1996, disebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, di iringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya Sily.

Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, dimana ia mengabarkan kepadaku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan masalah penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju, ia memeluk Islam setelah bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal Muhammad Ali.

Aku menyambut kedatangan mereka dikantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk dan berbicara didepanku dengan lemah lembut.

Aku katakan: " Saudara Sily, bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?"
Ia tersenyum dan berkata: "Ya, tentu saja boleh."

Sily berkata: "Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai disitu, aku juga salah seorang aktifis Kristenisasi senior di Afrika Selatan, karena aktifitasku yang besar, maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program Kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut.

Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat kedalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit diantara pendeta-pendeta lainnya.

Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar dikotaku untuk membeli beberapa hadiah. Ditempat itulah bermula sebuah perubahan. Dipasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai peci. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang berada di Afrika Selatan dengan sebutan 'agama orang Arab'. Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Akupun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan.

Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsisten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami Kristen-kan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, "Bukankah anda seorang pendeta?"
Aku jawab, "Benar."
Lantas ia bertanya kepadaku, "Siapa Tuhanmu?"
Aku katakan, "Almasih."

Ia kembali berkata, "Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa Almasih AS. berkata, 'Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku'." Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepadaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut.

Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayatpun yang menceritakan bahwa Almasih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti itu tidak pernah terlintas olehku?

Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku harus berusaha mencari-cari ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya.

Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah. Aku pergi ke dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut, aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, "Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin menyesatkan kamu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab."

Aku katakan, "Kalau begitu, coba beri jawabannya!"
Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorangpun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang kerumah dalam keadaanbingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdo'a. Namun kepada siapa aku berdo'a. Aku berdo'a kepada zat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah sang Maha Pencipta.

"Ya Tuhanku...
Wahai Dzat yang telah menciptakanku...
Sungguh telah tertutup semua pintu dihadapanku kecuali pintuMu...
Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran...
Manakah yang haq dan dimanakah kebenaran...
Ya Tuhanku...
Jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan...
Tunjukkan padaku jalan yang haq dan bimbing aku ke jalan yang benar..."

Lantas akupun tertidur. Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorangpun didalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba ditengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya.

Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang itu. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil,

"Wahai Ibrahim!"
Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapapun di ruangan itu.
Lelaki itu berkata, "Kamu Ibrahim... Kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah kamu yang memohon petunjuk kepada Allah?"
Aku jawab, "Benar."
Ia berkata, "Lihat ke sebelah kananmu!"

Akupun menoleh ke kanan dan ternyata disana ada sekelompok orang-orang yang sedang memanggul barang-barang mereka yang mengenakan pakaian dan bersorban putih.
"Ikutilah mereka agar kamu mengetahui kebenaran!" Lanjut lelaki itu.
Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku.

Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, dimana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimpiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksa untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya dimana orang-orang yang memakai sorban putih berada.

Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan peci. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johanesburg.

Disana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Dikantor itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang.

Aku katakan, "Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat."

Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat senang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut, sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata,
"Selamat datang wahai Ibrahim!"

Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapannya,

"Aku melihatmu didalam mimpi bahwa kamu sedang mencari-cari kami. Kamu hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhoi Allah untuk hambaNya yaitu Islam."

Aku katakan, "Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti pakaian yang kamu kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?"

Ia menjawab, "Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW."
(Iblis dan syaitan dapat menyerupai apa saja kecuali sosok Tuhan dan Nabi Muhammad SAW - han)

Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, "Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang akan menunjukiku agama yang benar?"
Ia berkata, "Benar."

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran.

Kemudian datang waktu shalat dzuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya.

Aku melihat mereka ruku' dan sujud kepada Allah SWT. Aku berkata dalam hati,
"Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para Nabi dan Rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah."

Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati,

"Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT telah menunjukkan kepadaku agama yang benar."
Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku.

Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT. Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama.

Mereka mengunjungi sebuah tempat mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajud, do'a, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali kekotaku. Ternyata keluarga dan teman-teman sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali dengan memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar di adakan sidang darurat. Pada pertemuan itu, mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami.

Mereka berkata kepadaku, "Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab."

Aku katakan, "Tidak ada seorangpun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam."

Mereka semua terdiam. Kemudian mereka mencoba cara lain yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata,

"Sesungguhnya Vatikan memintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja."

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka,  "Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah, aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku."

Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Pendeta Sily sekarang di panggil Da'i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan.

Dari swaramuslim.net

No comments:

Post a Comment

Silahkan memberikan komentar dengan perkataan yang sopan dan santun, perkataan dapat menilai seberapa tinggi pendidikan anda. Terima Kasih.

Post a Comment